Kamis, 06 Juni 2013

SEMINAR DAN PELATIHAN PELAYANAN FARMASI PADA PENANGANAN KASUS ASMA

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat membuat seseorang yang hidup dalam dekade ini menjadi "tahu segalanya", meskipun informasi tersebut terjadi di tempat yang jauh sekali. Informasi tersebut bisa benar sehingga sangat membantu kita dalam menyelesaikan masalah, namun bisa juga sebaliknya, informasi tersebut salah sehingga bisa berbahaya bila kita meyakininya. 


Masalah tersebut terjadi juga dalam dunia kesehatan dan kedokteran, pasien (dan keluarganya) sering sudah mencari informasi dari berbagai sumber termasuk internet sebelum bertemu petugas kesehatan. Sebaiknya informasi (yang belum tentu benar) tersebut dikonfirmasi saat bertemu petugas kesehatan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, semua petugas kesehatan harus memperdalam pengetahuan yang yang menjadi tanggung jawabnya dan pengetahuan lain yang terkait dengan pekerjaannya. 

Seorang apoteker salah satu tugasnya adalah menyiapkan obat yang diresepkan oleh dokter, menyampaikan obat tersebut kepada pasien dan menjelaskan cara menggunakan obat tersebut agar bisa bekerja dengan baik. Sebagian obat, biasanya yang bekerja lokal, sering kali dikemas dalam bentuk yang unik agar obat tersebut bisa bekerja lebih optimal, tidak mengganggu organ lain, tidak berinteraksi dengan obat lain, meminimalkan efek samping, dan lain-lain. 

Salah satu penyakit yang banyak menggunakan obat lokal adalah asma. Tujuannya adalah agar rute perjalanan obat lebih pendek, dosis lebih kecil, efek samping minimal, interaksi obat minimal, efek obat terhadap sistem selain pernapasan minimal dan lain-lain. Obat lokal untuk asma berupa obat inhalasi, yaitu obat yang masuk ke dalam paru dengan cara dihirup. Uniknya, setiap perusahaan obat memproduksi obat inhalasi tersebut dengan teknik yang berbeda-beda, dan masing-masing mengklaim metode inhalasinya yang paling baik.

Dokter yang meresepkan obat inhalasi tentunya akan menjelaskan cara penggunaan obat inhalasi agar obat tersebut bisa bekerja optimal dan berguna bagi pasien. Namun dokter kadang tidak atau lupa menjelaskan teknik penggunaan inhaler kepada pasien atau keluarganya, dan sebaliknya pasien juga tidak bertanya kepada dokternya. Pada keadaan demikian peran apoteker menjadi sangat penting, untuk menjelaskan teknik penggunaan obat, agar obat bisa dikonsumsi dengan baik. 

Pengetahuan tentang teknik penggunaan obat inhaler dengan berbagai model yang dibuat oleh masing-masing farmasi sangat diperlukan. Pengetahuan tersebut akan lebih lengkap bila juga disertai dengan pengalaman kesalahan-kesalahan cara penggunaan obat inhaler oleh pasien-pasien sebelumnya. Dan tentunya akan lebih bagus lagi apabila ditambah dengan pengetahuan tatalaksana asma secara umum. Sebagai bagian dari petugas kesehatan, seorang apoteker selain mengetahui tentang mekanisme kerja obat, dianggap juga mengetahui patofisiologi penyakit.

Karena itu sangat tepat apabila Ikatan Apoteker Indonesia cabang Balikpapan menyelenggarakan "Seminar dan pelatihan pelayanan farmasi pada penanganan kasus asma" di hotel Sagita Balikpapan pada tanggal 1 Juni 2013. Salah seorang narasumber pada seminar tersebut adalah dokter spesialis paru, anggora Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) cabang Kalimantan Timur. Bagi anda yang menginginkan makalah atau materi presentasi beliau, bisa dilihat di bawah ini.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar