Jumat, 23 Maret 2018

Pers Release Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam Hari TB Sedunia tahun 2018

MEWUJUDKAN CITA-CITA INDONESIA BEBAS TUBERKULOSIS 2035 
Masalah Tuberkulosis di Indonesia
Meskipun hanya memiliki jumlah penduduk sekitar 261 juta, Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TB), baik dalam jumlah keseluruhan kasus maupun kasus baru, mengalahkan Cina yang memiliki 1,4 milyar penduduk (peringkat ke-3). 

Hanya 1 negara yang lebih buruk jumlah kasus TB-nya dari Indonesia, yaitu India yang memiliki jumlah penduduk 1,3 milyar. Indonesia memiliki 3 permasalahan sekaligus terkait TB. yaitu TB itu sendiri, TB multidrug-resistant (MDR) atau kebal obat, serta TB dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Di Indonesia, diperkirakan terdapat 647 kasus TB setiap 100.000 penduduk dengan jumlah kasus baru mencapai 1 juta / tahun. Kematian akibat TB mencapai 100.000 / tahun, di luar pasien TB dengan HIV. Masalah di Indonesia semakin berat dengan infeksi HIV yang mencapai 4,4% dari kasus TB baru. Angka kesembuhan menurun dari 90,1% menjadi 85%. 

Angka deteksi kasus masih rendah sebesar 32% dengan kasus hilang (tidak tercatat) mencapai 67% (670.000). Indonesia juga memiliki masalah tingginya kasus TB MDR dengan 2,8% dari kasus TB baru serta mencapai 16% dari kasus TB yang pernah diobati juga sebelumnya. Indonesia bersama 5 negara lain termasuk negara terbanyak dengan kasus MDR yang tidak diobati.

Negara kita bersama 13 negara lain memiliki kombinasi 3 masalah yaitu TB, TB MDR, dan TB-HIV Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dokter paru sejak awal kelahirannya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perjuangan melawan TB. Bahkan sejak masa pendudukan Belanda, dokter paru yang saat itu disebut “Long-Arts” sudah berjuang menangani TB di sanatorium-sanatorium dan biro konsultasi yang didirikan Centrale Vereeniging voor Tuberculose Bestrijding (CVT) yang di kemudian hari bernama Stiching Centrale Vereeniging tot Bestrijding der Tuberculose (SCVT). Consultatie Bureaux diubah menjadi Balai Pengobatan Penyakit Dada (BPPD) dan dokter paru
melanjutkan perjuangannya di sana. Sampai kini, dokter paru tetap berjuang memberantas TB

Penemuan Kasus sebagai Langkah Awal Pemberantasan TB
Tanpa penemuan dan pencatatan kasus TB yang optimal pengentasan TB sulit dicapai. Berdasarkan data Rises Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 dan Balitbangkes didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat sudah mengetahui gejala TB (78%). Masyarakat juga tahu TB dapat disembuhkan (73%). Namun sayang, banyak yang tidak tahu bahwa pengobatan TB bisa didapatkan secara gratis (81%). Sebagian besar orang dengan TB ke fasilitas kesehatan non-pemerintah saat awal mencari pertolongan (74%). Sayangnya, 52% orang dengan gejala TB langsung ke apotik dan toko obat untuk membeli obat TB lalu diminum tanpa melalui prosedur diagnosis dan
pengobatan yang benar. Obat hanya diminum 1 atau 2 jenis, lalu dihentikan dalam beberapa minggu saat gejala mereda dan terasa membaik. 
Kasus yang tidak jelas diagnosis ini, atau dibuat diagnosisnya tapi tidak secara benar, tidak tercatat, apalagi tidak diobati dengan benar ini dikuatirkan beberapa waktu kemudian menyebabkan kondisi semakin parah. Yang sangat berbahaya adalah jika kuman TB di tubuh pasien tersebut berubah sifat menjadi kebal obat / MDR dan terus menulari keluarganya dan
lingkungan sekitar. 

Public-Private Mix (PPM) atau Kemitraan Swasta-Pemerintah
Salah satu solusi yang ditawarkan dokter paru dengan begitu besarnya proporsi pasien yang berobat ke fasilitas non-pemerintah adalah Public Private Mix (PPM). PDPI merupakan yang pertama menerima International Standard for TB Care (ISTC), suatu standar penanganan TB yang diakui internasional, dan juga mendorong dunia kedokteran Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsipnya. PDPI juga merasa kemitraan melalui PPM adalah suatu hal yang penting. 

Konsekuensi dari mengikuti standar internasional dalam penanganan TB yang sudah terbukti keberhasilannya di dunia ini, maka pencatatan dan penanganan TB yang terstandarisasi harus dilakukan, termasuk di sektor swasta. Pada awalnya hanya 25% RS swasta di Indonesia yang terhubung dengan program TB pemerintah. PDPI memulai program PPM di
Indonesia dengan bekerja sama dengan American Thoracic Society (ATS), sebuah perhimpunan dokter kesehatan pernapasan Amerika Serikat sejak tahun 2010. 

Masing-masing wilayah perjuangan PDPI memiliki karakteristik, prestasi, dan masalah tersendiri. Secara umum dalam program PPM PDPI dilakukan proses rekrutmen, pelatihan PPM, kunjungan supervisi, rapat koordinasi dengan dinas kesehatan (dinkes), pembuatan memorandum of understanding (MoU) dengan dinkes, penanganan TB sesuai standar, notifikasi, analisis indikator, serta monitoring dan evaluasi (monev). Dari kuartal (Q) ke-4 (Q4)
2010 sampai Q2 2016 yang melibatkan 97 dokter swasta, total kasus yang dinotifikasi berjumlah 5414 di Jakarta, 2063 di Bekasi, dan 2279 diTangerang. Di Surabaya, program PPM memiliki kekuatan dalam pemeriksaan dahak bakteriologis dalam penegakan diagnosis yang mencapai 90-94%. Di Medan, kontribusi PDPI sangat besar dalam pelaporan kasus TB yang mencapai 23% dari kasus TB yang ternotifikasi di Medan. Di Malang bahkan mencapai
keberhasilan tertinggi dalam pemeriksaan dahak untuk penegakanan diagnosis yang mencapai 99%. Para dokter paru di Indonesia akan terus berjuang dalam membantu bangsa dalam meningkatkan notifikasi kasus TB dalam rangka mencapai cita-cita eliminasi dan eradikasi TB. 

PDPI Terus Berkarya untuk Bangsa
Walaupun PPM merupakan komponen penting dalam cita-cita besar memberantas TB, tapi bukan satu-satunya program dan kontribusi PDPI. PDPI terus mengembangkan dan mendukung penanganan TB yang lebih baik dari tingkat pusat sampai perifer, pengadaan dan pengembangan alat dan teknologi baru dalam mendeteksi TB, perlindungan sosial, dan jaminan kesehatan menyeluruh guna menurunkan kasus TB 10% / tahun. PDPI juga terus mendukung penelitian serta pengembangan vaksin TB, obat-obat anti-TB baru dan kombinasinya untuk menangani TB aktif dan TB laten, dan alat-alat pemeriksaan yang akurat di semua tempat penanganan TB guna mencapai target penurunan kasus 17% / tahun.

PDPI sebagai perhimpunan terdepan yang berkomitmen untuk berperan aktif penanggulan penyakit respirasi masyarakat Indonesia seperti halnya TB. PDPI akan terus maju bersama mendukung pemerintah dalam mencapai Indonesia bebas TB 2035. Akhir kata, PDPI akan terus berjuang bagi kesehatan bangsa. Mari berjuang bersama.

TOSS TB !! Temukan dan obati TB sampai sembuh !!!

Pengurus Pusat 
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia






Tidak ada komentar:

Posting Komentar