Jumat, 17 Mei 2019

SIARAN PERS Organisasi Profesi kesehatan


"Fenomena Rokok Elektronik di Masyarakat: Ancaman atau Solusi?"


Jakarta, 14 Mei 2019 Indonesia tengah diserbu  fenomena baru  hadirnya  rokok elektronik atau yang  secara  umum  saat ini  dikenal  dengan   vape.  Ribuan  toko vape  tiba-tiba  menjamur dan pengguna vape  menjadi   sangat umum.  Produk  baru  ini disebut-sebut  aman  dibanding   rokok konvensional dan  bahkan  bisa menjadi  solusi berhenti merokok.  Untuk meluruskan pemahaman ini, hari ini organisasi  profesi kesehatan mengemukakan perspektifnya agar masyarakat mendapat informasi yang benar  tentang rokok elektronik.

WHO menyebutkan, peredaran rokok elektronik  secara  global saat  ini tengah  melambung. Peredarannya tersebar luas terutama di negara-negara berkembang, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.
Di Indonesia,  ditemukan   kasus  anak-anak  sekolah  dasar  mengonsumsi  vape  di sekolah. Peminat  rokok elektronik secara dahsyat  meningkat  tajam yang diindikasikan dengan  menjamurnya para  penjual  vape, baik di gerai-gerai  maupun  di toko  online (BPOM, 2018). Mendapatnya sangat mudah  dan tidak ada regulasi apapun  yang mengaturnya kecuali pengenaan cukai 57% yang justru melegalisasi produk yang belum jelas keamanannya ini.
Dalam berbagai  kesempatan, para penjual  dan produsen vape berkampanye menyebutkan produk ini lebih aman karena tidak mengeluarkan asap dan tidak beracun, serta sangat menganjurkan para  perokok  konvensional  untuk  pindah  ke rokok elektronik  untuk  membantu berhenti merokok. Sayangnya, masyarakat  tidak mendapat referensi  untuk  mengetahui fakta-fakta  di balik informasi- informasi tersebut. Pemerintah juga belum  membuat pernyataan yang tegas  mengenai  produk  ini sebagai panduan  kepada masyarakat  dalam pemakaiannya.
Dalam konferensi pers yang melibatkan  tiga belas organisasi profesi kesehatan dan lembaga
masyarakat  diungkapkan  bahwa  rokok  elektronik  sama  sekali bukan  tidak  berbahaya dan  tetap mengandung bahan-bahan kimia yang memiliki dampak kesehatan.
Seperti  yang disampaikan  Ketua Pokja Masalah  Rokok PDPI dr Feni Fitriani Sp.P(K) dalam pengantar, “Rokok elektronik mengandung nikotin, bahan karsinogen/menyebabkan kanker (seperti propylene  glycol, gliserol, formaldehid,  nitrosamin  dll) dan bahan  toksik lain (seperti  logam/heavy metals,  silikat, nanopartikel dan particulate matter) yang merangsang iritasi dan peradangan serta menimbulkan  kerusakan sel. Oleh karena itu, rokok elektronik berpotensi menimbulkan adiksi, meningkatkan  risiko kanker, dan risiko kesehatan lainnya pada manusia.


Pernyataan tersebut disepakati oleh ahli kesehatan lainnya yang hadir dalam konferensi pers di  Kantor  PB Ikatan  Dokter  Indonesia,  Jakarta,  ini.  Seperti  yang  disebutkan   Ketua  Umum  PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, “Rokok elektronik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis sehingga memiliki risiko perubahan sel  dan  mencetuskan  timbulnya   beberapa  kanker  tertentu,  seperti:   kanker  paru,   mulut   dan tenggorokan, dan juga gangguan di bidang pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis.
Senada dengan  pendapat di atas, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. DR. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), FAPSR, FISR, mengungkapkan, Berbagai penelitian  menunjukkan dampak rokok elektrik pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan/inflamasi, kerusakan   epitel,   kerusakan   sel,  menurunkan  sistem   imunitas   lokal  paru   dan  saluran   napas, peningkatan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema dan risiko kanker paru. Beberapa penelitian  di populasi  juga menunjukkan  bahwa  rokok elektrik menyebabkan iritasi saluran  napas, meningkatkan  gejala pernapasan, risiko bronkitis,   asma serta  risiko penyakit bronkiolitis obliterans dan infeksi paru.
Dr.  dr.  Erlina  Burhan,  MSc,  SpP(K)  dan  Dr.  dr.  Anna  Rozaliyani, MBiomed,  SpP  dari Perkumpulan  Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) menambahkan, Terdapat 7x1011 zat radikal per-hirup rokok elektronik yang akan meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status  imun yang mirip dengan  rokok reguler.  Kandungan zat berbahaya dalam  rokok elektronik, antara   lain nikotin,  dapat  mengubah ekspresi  beberapa gen,  salah  satunya  ICAM-4  yang  dapat meningkatkan  penempelan bakteri  TB. Kondisi tersebut membuat perokok  berisiko 2x lipat untuk terinfeksi dan mati karena TB dibandingkan bukan perokok!
Mengenai  anggapan  bahwa  rokok elektronik  dapat  menjadi  alat bantu  berhenti merokok, Ikatan  Ahli  Kesehatan  Masyarakat   Indonesia  (IAKMI)  menolaknya.   Disebutkan  bahwa   alih-alih berhenti merokok, berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan  DUAL users rokok elektronik dan rokok konvensional. Sebagai contoh, Polandia, dari 30% remaja 15-19 th yang mengonsumsi rokok elektronik tahun 2013-2014, 72,4%nya adalah dual users. Studi UHAMKA pada remaja SMA di Jakrata tahun  2018 menemukan dari 11,8% perokok  elektronik  dimana  51%nya DUAL users.  Ketua Umum PDPI, dr. Agus kembali menambahkan bahwa  WHO dalam konferensi  WHO Framework Convention On Tobacco Control tahun  2014 juga menyimpulkan  bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan rokok elektronik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.
Sementara  itu,   beredarnya  penelitian   tentang  keamanan  rokok   elektronik   terhadap kesehatan mulut dan gigi juga harus  dipertanyakan. Sebab menurut Dr. drg. Didi Nugroho Santosa, MSc, Komisi Obat, Material, dan Alat Kedokteran Gigi Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Berdasarkan beberapa penelitian, rokok elektronik ternyata tetap  berpengaruh negatif pada sel mukosa mulut dan tidak  terbukti  bahwa  rokok  elektronik  merupakan cara  yg tepat  untuk  menghentikan kebiasaan merokok konvensional.
Dalam konferensi pers hari ini, IAKMI juga mengingatkan  untuk berhati-hati pada kampanye penggunaan rokok elektronik  karena  industri  rokok konvensional  justru  berada  di baliknya. British American Tobacco mengintegrasikan rokok elektronik ke dalam bisnis rokok konvensionalnya dengan menginvestasikan USD 1 Miliar dollar untuk  pengembangan, mematok  target  pemasukan > 1 juta Pound  (USD 1,79M) tahun  2018  dan  > 5 juta  Pound  tahun  2022.  Philip Morris (PMI)  mendanai Foundation   for  Smoke  Free  World  (FSFW) dengan   tujuan   menghentikan  orang  merokok   dan memberikan dana  penelitian  untuk  menambah bukti ilmiah. Bersamaan  dengan  pemasaran rokok konvensional, PMI juga memasarkan produk tembakau yang dipanaskan bernama IQOS.
Indonesia  perlu  mengambil  sikap  kehati-hatian.  Dengan  belum  cukupnya  bukti  ilmiah
tentang safety dan efficacy sebagai alat berhenti merokok karena waktu yang masih terlalu pendek, indonesia perlu mewaspadai klaim kesehatan yang menjebak, jelas dr. Widyastuti Soerojo, IAKMI.


Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia mengungkapkan bahwa saat ini anak-anak  adalah  target  utama  produk  ini. Anak-anak selalu menjadi  korban  dan saatnya  kita harus melindungi mereka  dengan membuat aturan  yang ketat mengenai  promosi dan penjualannya. Mereka dibuat  terlena  oleh berbagai  wangi buah dan permen, sehingga mereka  tidak sadar  dibuat sakit karena bahan-bakan kimia dan dibuat kecanduan  oleh nikotin di dalamnya.
dr. Adhi Wibowo Nurhidayat,  SpKJ(K), MPH dari Institute of Mental  Health, Addiction, and Neuroscience (IMAN) mengingatkan  bahwa rokok elektronik membuat penggunanya adiksi terhadap nikotin cair yang ada  di dalamnya.  Rokok elektronik  juga menjadi  cara masuk  baru  beragam  jenis narkoba.  Penelitian yang dilakukan oleh Blundell dkk (QJM, 2018) menunjukkan  dari 861 responden yang diteliti, 39,5 persen  menggunakan rokok elektronik  untuk  menghisap  narkoba,  baik narkoba tradisional (ganja, kokain, heroin) maupun narkoba jenis baru (ganja sintetis, katinona sintetis).
Karena itu, dalam kesempatan ini, para dokter dari ahli kesehatan dan lembaga masyarakat juga  memberikan rekomendasi  kepada  pemerintah  untuk  melarang  peredaran rokok  elektronik sampai kepastian keamanannya. “Melihat berbagai kerugian yang ditimbulkan oleh pemakaian rokok elektronik, kami menghimbau masyarakat  Indonesia untuk tidak menggunakan rokok elektronik dan mengharapkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, mengambil keputusan yang tegas demi melindungi rakyat Indonesia dan mencegah  terulang  kembali eksploitasi industri rokok dalam produk yang berbeda dengan isi yang sama, yaitu zat adiktif nikotin,” tegas Dr. Daeng M Faqih, SH MH Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, seraya menutup acara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar